Bulan: Oktober 2015

Blog sebagai sarana pertemanan

image

Assalamualaikum wr wb
Era ketika “phone” belum “smart” dan biaya berkirim SMS masih dihitung biayanya berdasarkan jumlah karakter yang terketik dilayar sehingga melahirkan bahasa seperti “u lg sbk g?”, serta aplikasi untuk bercakap-cakap seperti BBM dkk bahkan belum terbayangkan oleh pengguna hape, berbalas komentar di blog adalah keniscayaan. Tak heran bila posting tulisan di blog boleh dibilang akan selalu mudah dalam memanen komentar, karena di situlah salah satu sarana “elite” berbalas obrolan 

image

.

Lalu, bagaimana penjelasan atas penemuan Blog? Ketika blog “dilahirkan”, saya takjub dan menduga bahwa ini adalah peristiwa krusial dalam budaya literasi yang akan mengubah masa depan bangsa dan negara kita. Alasannya sederhana saja, karena bangsa kita bergerak dari budaya lisan dan berjuang amat keras untuk beralih ke budaya tulis. Ketika blog booming, menjadi tren dan gaya hidup, dalam beberapa kejapan telah mendorong sekian banyak orang mau dan bisa menulis. Bukankah ini peristiwa positif yang menakjubkan? 

image

image

Masa keemasan blog adalah momentum yang patut dicatat dalam sejarah. Melalui blog lahir “cara baru” menjalin pertemanan hingga berdampak lanjut dengan kehadiran komunitas-komunitas blogger, dari ujung Barat hingga Timur Indonesia, dan pada puncaknya terselenggara even tahunan yang menjadi ajang “pesta” bagi blogger

Pergerakan BLOG >FACEBOOK > TWITTER > INSTAGRAM

image

Pernahkah Anda membaca “tanda-tanda” pergerakan zaman sederhana ini: Blog > Facebook > Twitter > Instagram. Saya dibrundung kesedihan ketika Facebook lahir, karena ia segera merebut hati blogger untuk beralih “mainan”. Kemudian Twitter muncul, lalu Instagram. Meskipun di Facebook tersedia Note, kita tahu dengan baik bahwa menulis Status FB jauh lebih pendek dan praktis. Dan ketika orang-orang mengeluh bahwa menulis Status FB itu terlalu panjang baginya dan selalu kehabisan bahan, maka Twitter dengan pembatasan 140 karakter adalah “gue banget”. Lalu saat menulis sependek Twitter mulai dikeluhkan, maka kehadiran Instagram dengan segala daya tariknya terasa jauh lebih memerdekakan. Nah, apakah Anda bisa melihat “progres” platform ini telah “menyunat” habis budaya bergelut dengan kata?

MENTAL ORANG MISKIN !!

image

Assalamualaikum wr wb
Terima kasih sudah percaya untuk kerjasama walau kita tidak saling mengenal awalnya
Jack Ma CEO AliBaba –
Ketika berjualan ke teman dekat dan keluarga, berapapun yang Anda jual ke mereka, mereka akan selalu berpikir, Anda sedang mencari untung dari uang mereka. Dan semurah apapun Anda jual ke mereka, mereka tetap tidak menghargainya.
Selalu ada saja orang-orang yang tidak peduli dengan biaya, waktu, dan tenaga Anda. Mereka lebih baik memilih ditipu oleh orang lain daripada membiarkan Anda mendapatkan hasil dari mereka. Karena di dalam hati mereka, mereka selalu berpikir berapa untung yang saya dapat dari dia?
Ini adalah contoh klasik mental orang miskin !
Sering ane jual ke temen deket, tapi ga menghargai , ya gitu deh jawabannya kata Jack Ma –> Mental Miskin.
Jack Ma berkata, “Ketika melakukan penjualan, orang pertama yang akan mempercayai Anda adalah orang asing. Teman Anda akan menutup diri dari Anda. Teman biasa akan menjauh dari Anda. Keluarga akan memAndang rendah Anda.”
Ketika suatu saat Anda telah sukses, Anda akan membayar semua tagihan ketika makan malam bersama, entertainment, dan disitu Anda akan menyadari semua orang akan hadir, kecuali orang asing.
Apakah Anda sudah paham?
Kita perlu memperlakukan orang asing lebih baik lagi! Dan demikian juga kepada teman yang tahu apa yang Anda lakukan, tetapi tetap mendukung Anda.
Mari memperlakukan orang asing yang membeli dari kita lebih baik lagi mulai hari ini. Karena mereka adalah pelanggan terbaik Anda
Semangat jualan!
Salam Sukses Sahabat . .